Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Strategi Merk (Brand Strategy) - Part 1


Mengutip pemikiran dari Kotler Kevin Lane Keller (2008) bahwa, Inti merek berhasil adalah produk atau jasa yang hebat, yang didukung oleh proses perencanaan yang seksama, sejumlah besar komitmen jangka panjang dan pemasaran yang dirancang dan dijalangkan secara kereatif, merek yang kuat menghasilkan loyalitas konsumen yang tinggi. Selain dari pemikiran Kotler Kevin Lane Keller masih ada asumsi seperti yang dikatakan oleh Aaker (2000) menyatakan merek dapat dijadikan salah satu sumber keunggulan bersaingan  untuk menarik minat beli calon konsumen. Memiliki dan melahirkan brand yang besar dan kuat tentu menjadi idaman semua pelaku bisnis Merek (brand) berfungsi mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penyaji dan membedakannya dari produk sejenis  dari penyaji lain (Kotler, 2000:163). Lebih dari itu, merek adalah sesuatu yang dibentuk dalam pikiran pelanggan dan memiliki kekuatan membentuk kepercayaan pelanggan (Peter & Olson, 1996:168). Jika perusahaan mampu membangun merek yang kuat di pikiran pelanggan melalui strategi pemasaran yang tepat, perusahaan akan mampu membangun mereknya. Dengan demikian merek dapat memberi nilai tambah pada nilai yang ditawarkan oleh produk kepada pelanggannya yang dinyatakan sebagai merek yang memiliki ekuitas merek (Aaker, 1991:14). 

Merek sering diinterpretasikan berbeda-beda, diantaranya sebagai tanda kepemilikan, alat diferensiasi, alat fungsional, alat simbolis, risk reducer, shorthand device, legal device dan strategic device. Merek bermanfaat bagi produsen ataupun konsumen. Bagi produsen peran merek adalah sebagai sarana identifikasi produk dan perusahaan, bentuk proteksi hokum, signal jaminan kualitas, sarana menciptakan asosiasi dan makna unik (diferensiasi), sarana keunggulan kompetitif dan sumber financial returns. Sementara peran merek bagi konsumen adalah identifikasi sumber produk, penetapan tanggung jawab pada produsen atau distributor, pengurang resiko, penekan biaya pencarian internal dan eksternal, janji atau ikatan khusus dengan prodisen, alat simbolis yang memproyeksikan citra diri dan signal kualitas.

Pemilihan Nama Merek

Sebuah merek memiliki beberapa elemen/identitas baik bersifat tangible maupun intangible. Sifat tangible merek seperti Nama Merek, symbol, slogan, desain grafis dan sebagainya. Sedangkan sifat merek yang bersifat intangible seperti nilai simbolis, ikatan khusus, kepribadian, citra diri dan sebagainya. Branding memungkinkan perusahaan untuk mendeferensiasikan produknya dari produk pesaing dan dapat digunakan untuk mempresentasikan nama perusahaan dan seluruh produk yang dipasarkan. Terdapat lima cara untuk memilih dan mengembangkan nama merek

  1. Founder and Owner Names (Nama pendiri atau nama pemilik) contoh sosro (Sosrodjojo), Ford Motor Company (Henry Ford)
  2. Functional Brand (nama-nama berasal dari manfaat pokok yang ditawarkan) contoh DuraCell yang berarti tahan lama, Microsoft (Micro computer software)
  3. Invented Brand (menyiratkan asosiasi tertentu) contoh Google bermakna matematis (solusi)
  4. Experiental Brand yaitu nama perusahaan atau merek yang berasosiasi dengan pengalaman seperti pengalaman sukses, penemuan, pergerakan atau kesehatan. Contoh dalam bidang portal internet (Explorer, safari dan lain-lain)
  5. Exocative Brand merurpakan nama yang menyiratkan atribut atau perasaan positif contoh apple, yahoo dll


Post a comment for "Strategi Merk (Brand Strategy) - Part 1"

Berlangganan via Email